Jumat, 06 November 2009

Jumat, Juli 25, 2008

Quo Vadis elearning di Indonesia

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Secara "resmi" pertamakali berkenalan dengan kata elearning adalah waktu mengikuti workshop di UI sama pak Edhy Sutanta pada waktu itu. Secara tidak resmi tentu saja sering mendengar istilah tersebut sebelumnya, seperti di situs ilmukomputer yang mengklaim sebagai komunitas elearning gratis di Indonesia. Secara arti menurut wikipedia elearning adalah Electronic learning merupakan tipe pendidikan dengan media pengajaran yang menggunakan teknologi komputer. Pada saat ikut worskhop di UI tahun 2006 yang lalu arti elearning bermacam-macam namun yang pasti bukan hanya menyediakan bahan pengajaran kemudian bisa dilihat, dibaca atau di download.

Jadi walaupun kuliah secara online tetapi harus dapat dipastikan bahwa user atau pengguna atau mahasiswa tetap bisa dipantau baik "kehadiran", membuat tugas dan lain sebagainya. Kalo mau 100% mau menggunakan elearning saya yakin pengajar atau dosen akan mendapat beban kerja yang berat daripada kuliah secara online. Mempersiapkan materi yang cantik, tidak membosankan, syukur2 full multimedia adalah hal yang cukup sulit ( walaupun bisa di sub kontrakan, ning duwite sopo hehehhee, (jw-uangnya sapa )). Melihat tugas yang dikirimkan online, melakukan pengecekan, posting nilai dan lain sebagainya tentu membutuhkan effort yang lebih besar bagi dosen dan harus di dukung dengan sarana yang memadai.

CMS atau secara lebih spesifik disebut LMS atau juga VLE merupakan perangkat lunak yang digunakan untuk mewadahi elearning. Cukup banyak baik "merk" nya baik yang gratis maupun berbayar, moodle, caroline, sakai, blackboard, dan banyak lagi yang lain seperti yang di develop secara mandiri oleh PTN, PTS di Indonesia seperti elisa UGM, sinau UNISULA, elista AKPRIND masih banyak lagi. Dengan segala fasiltas yang ada pada CMS tersebut memungkinkan semua kegaiatan kuliah offline di online kan, namun seperti yang saya sebut di atas ada banyak kendala yang bisa dihadapi (khususnya saya hehehehe).

Nah dengan berbagai "kekurangan" tadi maka elearning lebih dijadikan sebagai media bantu untuk melaksanakan kuliah secara offline ato sering disebut sebagai blended learning. Kuliah offline jalan dibantu dengan online juga. Bagaimana dengan elearning di Indonesia ? dengan adanya proyek INHERENT dari DIKTI banyak PTN dan PTS kecipratan atau kegrujuk (jw- kecipratan = dapet sedikit, kegrujuk= dapet banyak ) dana dari Rakyat Indonesia melalui Pemerintah RI via Departemen Pendidikan :D. Dengan adanya dana tersebut berlomba-lombalah membuat isi atau konten elearning atau juga membuat CMS untuk elearning, bisa di cek di google sekarang banyak situs PT yang menyediakan elearning.

Di luar negeri sana walaupun tidak mengatakan elearning juga melakukan sharing konten atau course yang dipunyai untuk bisa dipelajari oleh yang memiliki koneksi Internet.


REVIEW:E-Learning, masih menjadi sesuatu yang baru yang harus kita kembangkan di Indonesia. Hal ini tentu saja juga harus dibarengi dengan resource yang mendukung pula.
Tidak cukup hanya disitu saja, mencari referensi lain juga sangat dibutuhkan untuk menjadi bahan acuan maupun perbandinganBudaya kurang aktif atau malas mencari tahu sendiri dan lebih memilih banyak bertanya menjadi salah satu faktor penghambat. Sebagai contoh, ketika kita seharusnya membahas suatu permasalahan dan mencari solusinya, maka kadang kita masih bertanya mengenai dasar atau apa yang telah diberikan di awal, melalui E-Learning, yang harusnya telah kita pahami.Budaya seperti itu harus kita tinggalkan. Kita harus mengikuti kemajuan teknologi,supaya kita tidak tertinggal berbagai informasi baik dari dalam maupun luar lingkungan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar